Legenda Gunung Bromo dan Suku Tengger
24 July 2023 908x Bromo, Sosial Budaya, Wisata Alam, Wisata Malang, Wisata Malang

theAsianParent.com
Gunung Bromo merupakan salah satu objek wisata alam di Jawa Timur yang banyak dikunjungi wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.
Gunung ini tergolong gunung yang masih aktif dengan aktifitas letusan 30 tahun sekali sejak abad 20. Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, dahulu gunung ini konon terbentuk dari letusan Gunung Tengger.
Gunung Tengger adalah gunung dengan ketinggian 4000 mdpl. Gunung tersebut menjadi gunung tertinggi dan terbesar pada waktu itu.
Gunung Tengger kemudian Meletus dan menciptakan kaldera dengan diameter lebih dari 8 kilometer. Meletusnya Gunung Tengger juga memunculkan 4 gunung baru yaitu, Gunung Watangan, Gunung Kursi, Gunung Batok dan Gunung Bromo.

Bromo Tengger Semeru – Travel Kompas
Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 mdpl dan berada di empat wilayah sekaligus yaitu, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Lumajang Jawa Timur. Asal nama Gunung Bromo adalah berasal dari kepercayaan warga umat Hindu di sekitar.
Baca Juga : Fakta Menarik Bunga Edelweiss di Bromo
Masyarakat percaya bahwa Gunung Bromo meninggalkan jejak Dewa Brahma, selain itu mereka percaya bahwa Gunung Bromo adalah tempat bersemayam dewa yang melindungi mereka yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.
Asal Usul Nama Tengger

Roro Anteng dan Joko Seger – theasianparent.com
Terdapat suku asli dari daerah tersebut, yaitu Suku Tengger. Suku Tengger diambil dari nama Roro Anteng dan Joko Seger yang berhasil menikah setelah Roro Anteng menggagalkan usaha pria lain menikahinya yaitu Kyai Bimo.
Roro Anteng dipercaya sebagai keturunan Kerajaan Majapahit dan titisan Dewa yang memiliki paras cantik. Konon Kyai Bimo yang diberikan syarat untuk membuat lautan sebelum fajar tiba.
Upacara Kasada di Bromo

Upacara Yadnya Kasada – Tirto.id
Namun usaha itu gagal karena Roro Anteng sengaja membangunkan Ayam Ayam berkokok. Membuat Kyai Bimo percaya bahwa fajar telah tiba, sehingga ia sangat marah dan melemparkan sebuah batu besar yang tengkurap, saat ini dikenal dengan Gunung Batok.
Setelah itu Roro Anteng dan Joko Seger menikah dan hidup Bahagia namun mereka tak kunjung diberikan anak. Mereka kemudian bertapa di gunung dan mendengar bisikan goib bahwa mereka akan diberikan anak namun dengan syarat anak terakhir harus dikorbankan ke kawah Gunung.
Baca Juga : 6 Fakta Menarik Suku Tengger di Bromo
Mereka menyanggupi syarat tersebut. Setelah bertahun Tahun Joko Seger mendapatkan mimpi untuk menepati janjinya, ia memiliki 25 anak dan anak terakhirnya yang Bernama Jaka Kesuma.
Sosok Jaka Kesuma memiliki paras tampan, pintar dan cerdik. Setelah bermimpi untuk mengorbankan diri oleh sang ayah agar tidak terkena sial. Dengan bijaksana Jaka Kesuma menyanggupi demi keluarga dan masyarakat.
Beramai ramai Jaka Kesuma diantar ke kawah Gunung Bromo lalu ia menceburkan diri. Namun sebelum menceburkan diri ia sempat berucap untuk minta diberikan hasil panen terbaik setiap tanggal 14 Bulan Kasada.
Sejak saat itu tiap tanggal 14 Kasada warga Gunung Bromo memperingati Upacara Kasada.
Sumber : Liputan6 | Penulis : Aisyah Salma Izzatunnisa
Mungkin Anda tertarik membaca artikel berikut ini.
Klenteng Tua Pek Kong Singkawang di Kota Seribu Klenteng
Klenteng Tua Pek Kong Singkawang merupakan salah satu ikon wisata religi dan budaya yang memukau di Kota Seribu Klenteng, Kalimantan Barat. Berbeda dengan klenteng lain, Klenteng Tua Pek Kong menyimpan sejarah panjang dan arsitektur khas Tionghoa yang menarik banyak wisatawan lokal dan mancanegara. Sejarah dan Keunikan Klenteng Tua Pek Kong Singkawang Bagi b... selengkapnya
Edensor Hills Kenapa Semua Orang Pengen Tinggal di Sini?
Pernah nggak sih, pas lagi scrolling Instagram, tiba-tiba jempol berhenti di satu foto yang bikin batin menjerit: “Pengen tinggal di sini aja!”? Kalau iya, kemungkinan besar kamu baru saja melihat Edensor Hills. Di tahun 2026, definisi “mewah” sudah bergeser. Bukan lagi soal emas atau marmer, tapi soal ketenangan mental dan pela... selengkapnya
Candi Penataran Blitar Warisan Kerajaan Majapahit
Candi Penataran, terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, adalah kompleks candi Hindu yang terbesar dan penting dari masa Majapahit. Kompleks ini dibangun dan dikembangkan mulai abad ke-12 dan mencapai puncak kejayaan pada era Majapahit (abad ke-14 hingga ke-15). Lokasinya di lereng barat daya Gunung Kelud memberi nilai es... selengkapnya
Kontak Kami
Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.
Hotline
0341-3029785Whatsapp
082132102798Email
office@planktontour.id











Belum ada komentar