Hotline 0341-3029785
Konsultasi sekarang

Kerajaan Blambangan, Benteng Terakhir Hindu di Jawa

Kerajaan Blambangan ini lahir pada 1295, dua tahun setelah Majapahit berdiri. Raja Majapahit, Raden Wijaya memberikan Istana Timur ini kepada Arya Wiraraja (adipati Sumenep) dengan ibukota di Lumajang, karena telah membantu perjuangannya mendirikan Majapahit. Setelah keruntuhan Majapahit pada abad-15, Blambangan mampu bertahan hingga abad ke-18.

Setelah kematian Tawang Alun II, Blambangan kembali di bawah kekuasaan Bali, yakni Kerajaan Buleleng dan Mengwi (1697-1764). Cucu Tawang Alun Pangeran Adipati Danureja (1698-1736), dilantik sebagai Raja Blambangan dan membangun pusat istana di Kebrukan, Lateng (sekarang masuk Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi).

Danureja dipaksa raja Buleleng untuk memerangi Mataram dan sekutunya. Namun pada 1726, Buleleng berperang dengan Mengwi yang berakhir dengan kekalahan Buleleng. Akibatnya, Buleleng terpaksa menyerahkan Blambangan ke Mengwi.

Perpindahan Pusat Kerajaan Blambangan

Karena peperangan berkepanjangan, ibukota kerajaan ini berpindah-pindah dari Lumajang, Panarukan, Kedawung, hingga akhirnya ke pedalaman Banyuwangi seperti Macan Putih dan Ulupampang. Masa kejayaan tertinggi terjadi di masa Raja Tawang Alun II yang memerintah pada abad ke-17.​

Pengaruh Politik dan Dominasi Luar

Blambangan sempat diperangi dan dikuasai bergantian oleh kerajaan Jawa, Bali, serta kekuatan kolonial VOC dan Inggris. Konflik juga mengakibatkan perpindahan budaya dan politik, dengan masuknya pengaruh Bali hingga membuat budaya Banyuwangi lebih kental dengan Bali daripada Jawa.​

Perang Puputan Bayu 1771 Perang Habis-Habisan

Puncak konflik adalah Puputan Bayu pada 18 Desember 1771, sebuah pertempuran brutal yang dikenal sebagai perang habis-habisan antara rakyat Blambangan dan VOC beserta sekutunya. Peperangan ini mengakibatkan kematian puluhan ribu jiwa dan menyusutnya populasi Blambangan secara drastis.​

Pasca-Perang dan Perubahan Sosial

Pasca pertempuran sengit itu, pusat pemerintahan dipindahkan lagi dan Blambangan bertransformasi menjadi daerah yang lebih Islam dengan bupati keturunan Blambangan yang diterima rakyat. Segera, wilayah ini dikenal sebagai Banyuwangi dan menjalani fase baru dalam sejarahnya.

​Sisa-sisa keraton Blambangan di Ulupampang masih bisa disaksikan di Desa Tembokrejo, Muncar. Ada dua situs di sana, yakni, Situs Umpak Songo dan Situs Sitihinggil. Situs Umpak Songo artinya sembilan penyangga. Situs ini berupa reruntuhan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu diantaranya berlubang di bagian tengah.

Batu yang berlubang itu diduga kuat berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Diduga, Situs Umpak Songo itu adalah bekas balai pertemuan. Sedangkan Situs Sitihinggil dulunya dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari Bali yang menyebrang melalui Selat Bali.

Baca Juga : Alas Purwo Hutan Tertua dan Penuh Misteri di Jawa Timur

Puputan Bayu Bayu Blambangan merupakan simbol perlawanan gigih kerajaan terakhir Hindu di Jawa Timur yang menghadapi tekanan politik dan militer dari kerajaan Islam serta kekuatan kolonial. Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan trauma mendalam tapi juga menjadi tonggak perubahan besar dalam sosial budaya dan politik di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Komentar Anda*Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Mungkin Anda tertarik membaca artikel berikut ini.

Seru Banget! Petualangan Seru di Tembok Besar Beijing

18 December 2025 174x Tips, Tour Luar Negeri

Kenapa Tembok Besar Beijing Wajib Dikunjungi? Tembok Besar China nggak cuma simbol sejarah, tapi juga destinasi petualangan yang bikin hati berdebar-debar. Dari pemandangan alam yang memukau sampai cerita-cerita legenda yang bikin merinding, tempat ini punya segalanya untuk traveler yang ingin merasakan sensasi unik. Nggak heran kalau Tembok Besar Beijing ja... selengkapnya

Destinasi Wisata : Tempat Family Gathering di Yogyakarta

Tempat Family Gathering di Yogyakarta yang Seru dan Memikat Yogyakarta, kota yang kaya akan budaya dan keindahan alam, menjadi destinasi ideal untuk mengadakan family gathering di Yogyakarta. Dengan beragam pilihan tempat yang cocok untuk semua usia, Anda bisa merencanakan acara keluarga yang tak terlupakan. Dari wisata alam hingga tempat wisata edukatif, Yo... selengkapnya

Gathering Tempatnya Kolaborasi, Relaksasi, dan Inspirasi dalam Satu Lokasi!

Gathering menjadi salah satu kegiatan yang semakin populer di kalangan perusahaan, komunitas, atau bahkan kelompok pertemanan. Tidak hanya sekadar berkumpul, bisa juga menjadi momen penting untuk membangun kolaborasi, menciptakan suasana relaksasi, dan mendapatkan inspirasi baru. Salah satu lokasi yang menawarkan semua itu adalah Kaliwatu, disini anda ... selengkapnya

Follow Us on Social Media

4.8 / 5
Rating Stars
Based on 64 reviews

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.